Kemarin saya mendapatkan pemberian yang sangat berkesan: sebuah piring keramik gantung bergambar cantik dari Papua.
Piring itu diberikan langsung oleh Mama Bertha Affar, salah satu pimpinan Bank Papua Pusat di Jayapura.
Awalnya saya pikir, “Wah, ini piring cantik sekali.”
Saya melihatnya sebagai cendera mata khas Papua. Sesuatu yang indah untuk dipajang di rumah. Bentuknya besar, warnanya ramai, dan gambarnya menarik. Di bagian tengah ada hewan mitologis, lalu di sekelilingnya ada bunga-bunga, pola biru, dan sulur hitam yang membuat piring itu terlihat hidup.
Tapi waktu menerimanya, saya belum benar-benar paham maknanya. Saya hanya tahu bahwa piring itu indah. Saya belum tahu bahwa di balik piring itu ada cerita tentang adat, keluarga, mas kawin, dan penghormatan.
Saya mulai sadar setelah Pak Abraham Kaiba menyampaikan bahwa piring seperti ini bisa digunakan sebagai mas kawin.
Jujur, waktu itu saya kira beliau bercanda.
Dalam pikiran saya, masa iya piring jadi mas kawin?
Ternyata saya yang belum paham.

Ternyata Ini Harta Keluarga
Setelah itu, Mama Bertha menjelaskan sendiri bahwa piring tersebut adalah harta keluarga milik beliau.
Bahkan, piring itu adalah mas kawin yang diberikan oleh suaminya saat menikah dulu.
Nah, di bagian ini saya langsung terdiam.
Rasanya beda sekali ketika tahu bahwa benda yang saya terima bukan sekadar piring hias atau oleh-oleh. Piring itu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup Mama Bertha. Bagian dari pernikahan beliau. Bagian dari keluarga beliau. Bagian dari cerita yang sangat pribadi.
Saya merasa sangat terharu.
Kadang kita menerima sesuatu, lalu baru memahami nilainya setelah tahu cerita di belakangnya. Dan piring ini termasuk salah satunya.
Dari luar, ia terlihat seperti piring keramik bergambar cantik. Tapi setelah tahu sejarahnya, rasanya piring ini seperti membawa cerita panjang yang tidak bisa diukur dengan harga.
Cerita Pak Stevie di Jalan Menuju Skow
Cerita tentang piring ini makin terasa dalam ketika Pak Stevie Bonsapia menjelaskan maknanya dalam budaya orang asli Papua.
Beliau bercerita saat kami dalam perjalanan menuju Skow, daerah perbatasan negara Indonesia dan Papua Nugini. Di perjalanan itu, saya mendapat banyak cerita yang membuat piring ini terasa semakin hidup.
Pak Stevie menjelaskan bahwa bagi orang asli Papua, ketika seorang laki-laki hendak menikah dan melamar calon istrinya, ia harus menyiapkan piring seperti ini sebagai bagian dari mas kawin.
Untuk mendapatkannya, calon mempelai pria bisa meminta kepada orang tua atau saudara kandungnya. Jika orang tua atau saudara kandungnya memiliki piring tersebut, mereka wajib memberikannya untuk membantu proses pernikahan itu.
Tapi kalau ia meminta kepada teman atau kerabat dekat, mereka tidak wajib memberikannya. Boleh memberi, boleh juga tidak.
Dari situ saya mulai paham: piring ini bukan benda yang diberikan sembarangan. Ada hubungan, kedekatan, dan penghormatan di dalamnya.
Pak Stevie juga mengatakan bahwa saya sangat beruntung karena mendapatkannya langsung dari Mama Bertha. Apalagi menurut beliau, Mama Bertha bukan hanya seorang pimpinan di Bank Papua Pusat, tetapi juga salah satu anak kepala suku atau kepala adat di Papua.
Menurut Pak Stevie, ketika seseorang diberikan piring seperti ini langsung oleh Mama Bertha, itu artinya orang tersebut dianggap penting, terhormat, bahkan sudah dianggap sebagai keluarga.
Wah.
Saya benar-benar tidak menyangka maknanya sejauh itu.
Awalnya saya hanya menerima piring. Setelah mendengar cerita itu, saya merasa seperti menerima kepercayaan.
Sedikit Tentang Piring Gantung di Papua
Setelah mencari tahu lebih jauh, ternyata piring gantung memang punya tempat penting dalam budaya Papua, khususnya dalam beberapa tradisi masyarakat Biak dan Serui. Piring gantung juga dikenal dalam bahasa Biak sebagai ben bepon. Dalam tradisi itu, piring gantung bukan sekadar alat makan atau hiasan, tetapi menjadi simbol budaya, harta keluarga, penghormatan, dan ikatan sosial.
Dalam adat Biak, piring gantung dapat menjadi bagian dari Ararem, yaitu prosesi pengantaran mas kawin dari keluarga calon mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita. Dalam prosesi ini, piring gantung menjadi simbol pengikat dua keluarga besar, juga lambang penghormatan kepada keluarga perempuan. Beberapa tulisan tentang tradisi Ararem juga menjelaskan bahwa mas kawin dalam tradisi ini bukan hanya soal benda, tetapi juga tentang martabat keluarga dan hubungan antarkerabat.
Menariknya, piring gantung ini juga punya sejarah panjang. Beberapa sumber menyebutkan bahwa piring-piring keramik seperti ini berkaitan dengan jalur perdagangan lama di kawasan timur Indonesia, termasuk Papua. Namun seiring waktu, piring itu tidak lagi sekadar barang dagangan. Ia masuk ke dalam adat, menjadi benda bernilai, dan hidup sebagai bagian dari budaya masyarakat Papua.
Jadi, ketika Pak Abraham Kaiba mengatakan bahwa piring ini bisa digunakan sebagai mas kawin, ternyata itu bukan candaan. Memang begitu adanya. Saya saja yang belum tahu. Hehe.
Untuk pembaca yang ingin membaca lebih jauh, beberapa referensi singkat yang bisa dibuka antara lain: Ekuatorial/EcoNusa tentang piring gantung Papua, RRI tentang tradisi Ararem Suku Biak, dan ANTARA Papua tentang tradisi mengantar mas kawin Suku Biak.
Arti Gambar di Piring Ini
Saya semakin takjub ketika Pak Abraham Kaiba mengirimkan sebuah infografik yang beliau buat dengan bantuan ChatGPT tentang makna tiap corak dan gambar pada piring ini.
Jujur, saya sendiri sebelumnya hanya melihat piring ini sebagai benda yang cantik. Tapi setelah melihat infografik itu, saya jadi memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya mungkin terlewat: hewan mitologis di bagian tengah, motif bunga, pola biru, sulur hitam, sampai komposisinya yang simetris.
Terima kasih, Pak Abraham. Dari infografik itu, saya jadi semakin memahami bahwa piring ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menarik untuk dibaca sebagai simbol.

Piring ini bergaya keramik tradisional dengan motif perpaduan pengaruh Timur, terutama Tiongkok, dan pengaruh Eropa yang umum ditemukan pada keramik pesisir Indonesia. Dari motifnya, piring ini terasa seperti benda yang lahir dari pertemuan banyak budaya: perdagangan, perjalanan, adat, dan cerita keluarga.
Di bagian tengah piring, ada gambar hewan mitologis yang menyerupai qilin atau kylin. Dalam tradisi Tiongkok, qilin sering dimaknai sebagai makhluk mitologis pembawa kebajikan, kedamaian, keberuntungan, dan perlindungan. Kehadirannya di tengah piring seperti menjadi pusat doa: semoga yang memiliki piring ini mendapatkan kebaikan dan perlindungan.
Di sekitar bagian tengah, ada motif bunga dengan warna merah, kuning, biru, dan hijau. Bunga sering dimaknai sebagai simbol keindahan, keberlimpahan, dan kehidupan. Motif ini memberi kesan cerah dan hangat, seolah piring ini bukan hanya benda adat, tetapi juga membawa harapan tentang kebahagiaan dan kemakmuran.
Ada juga pola geometris biru yang muncul di beberapa bagian piring. Warna biru memberi kesan tenang, seimbang, dan tertata. Pola ini seperti menjadi pengikat visual di antara motif-motif lain yang lebih ramai.
Sementara itu, pola sulur atau arabesque hitam terlihat mengalir di beberapa bidang. Motif sulur ini memberi kesan kesinambungan, harmoni, dan hubungan yang terus tersambung. Dalam pembacaan saya, ini menarik sekali, karena makna itu terasa dekat dengan fungsi piring ini sebagai benda yang mengikat relasi keluarga dan adat.
Di sisi lain, ada juga motif seperti matahari atau api. Motif ini bisa dibaca sebagai simbol energi, semangat hidup, kekuatan, dan perlindungan dari hal-hal buruk.
Yang membuat piring ini terasa utuh adalah komposisinya yang simetris. Tata letaknya seimbang. Tidak asal penuh. Ada keteraturan di dalam keramaiannya. Mungkin itu juga yang membuat piring ini terasa enak dilihat: ramai, tapi tetap harmonis.
Tentu ini bukan tafsir akademik. Ini pembacaan simbolik dari infografik yang dibantu Pak Abraham, dan bagi saya justru membuat piring ini terasa makin menarik. Apalagi setelah tahu bahwa piring ini pernah menjadi mas kawin Mama Bertha.
Motifnya bukan hanya cantik.
Ia seperti menyimpan doa.
Benda yang Diam, Tapi Ceritanya Panjang
Saya jadi mikir, ada benda-benda yang kelihatannya diam saja, tapi sebenarnya menyimpan banyak cerita.
Piring gantung ini salah satunya.
Ia mungkin hanya tergantung di dinding. Tidak bicara. Tidak bergerak. Tapi di balik gambarnya yang cantik, ada cerita tentang adat, pernikahan, keluarga, dan penghormatan.
Ada cerita tentang seorang laki-laki yang memberikan mas kawin kepada istrinya. Ada cerita tentang keluarga yang menyimpan piring itu sebagai harta berharga. Ada cerita tentang orang tua, saudara, kerabat, dan hubungan sosial yang saling terikat.
Lalu, suatu hari, piring itu diberikan kepada saya.
Rasanya campur aduk.
Senang, tentu saja. Tapi lebih dari itu, saya merasa terhormat. Saya juga merasa kecil, karena baru sadar bahwa pemberian ini punya makna yang sangat besar.
Terima Kasih
Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mama Bertha Affar.
Terima kasih atas pemberian yang sangat berharga ini. Bukan hanya karena piringnya indah, tetapi karena cerita dan makna di baliknya jauh lebih indah.
Terima kasih juga kepada Pak Abraham Kaiba, yang pertama kali menyampaikan bahwa piring ini bisa menjadi mas kawin. Walaupun awalnya saya kira bercanda, ternyata dari situlah saya mulai belajar. Terima kasih juga karena telah membantu saya memahami arti gambar dan motif pada piring ini.
Dan terima kasih kepada Pak Stevie Bonsapia, yang menjelaskan lebih jauh tentang makna piring gantung dalam budaya Papua. Cerita beliau di perjalanan menuju Skow membuat saya melihat piring ini dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi sebagai piring hias.
Tapi sebagai simbol penghormatan.
Tidak Hanya Saya
Pemberian piring gantung ini juga diberikan kepada empat anggota tim konsultan dari Universitas Indonesia, yaitu Prof. Rahmat, Pak Djo Wicaksono, Ibu Baiq Susanti, dan Pak Teguh.
Mereka juga mendapatkan pemberian piring ini dari Mama Bertha.
Bagi saya, momen ini menjadi semakin berkesan. Karena pemberian itu bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga bentuk penghormatan kepada tim yang hadir dan bekerja bersama.
Di tengah agenda kerja, diskusi, dan perjalanan, ada satu momen budaya yang sangat hangat dan manusiawi.
Sebuah piring diberikan.
Tapi yang terasa bukan hanya bendanya.
Yang terasa adalah penerimaan, penghormatan, dan rasa kekeluargaan.
Merawat Piring, Merawat Cerita
Sekarang saya merasa punya tanggung jawab untuk merawat piring ini dengan baik.
Bukan hanya menjaga supaya tidak pecah. Tapi juga menjaga ceritanya.
Karena piring ini bukan sekadar pajangan. Ia adalah harta keluarga. Ia pernah menjadi mas kawin. Ia punya nilai adat. Ia diberikan langsung oleh seseorang yang saya hormati.
Mungkin nanti piring ini akan saya gantung di rumah. Tapi saya tahu, yang saya simpan bukan cuma piringnya. Saya juga menyimpan cerita tentang Mama Bertha, Pak Abraham, Pak Stevie, dan satu perjalanan singkat di Papua yang ternyata membekas cukup dalam.
Dari sebuah piring gantung, saya belajar bahwa sebuah pemberian kadang tidak hanya membawa bentuk.
Ia bisa membawa cerita.
Ia bisa membawa kepercayaan.
Ia bisa membawa penghormatan.
Dan kadang, tanpa kita sadari, ia juga membawa kita menjadi sedikit lebih dekat dengan sebuah keluarga, sebuah budaya, dan sebuah tanah yang begitu kaya: Papua.